SEJARAH PUBLIC RELATIONS

Praktek PR sebenarnya sudah ada sejak jaman nenek moyang kita.Dimulai dengan ditemukannya tulisan di gua2 dan di batu2,bangunan,dll.Untuk praktek PR secara resminya itu sendiri dimulai di Inggris tepatnya di DEPKEU dengan menunjuk seorang juru bicara pada saat itu.Namun dalam perkebangannya di Inggris tidak begitu luas,justru hal itu terjadi Amerika Serikat

.Pada awalnya praktek PR di Amerika ramai dengan propaganda.Komunikasi yang terjadi tidak berimbang dan jauh dari kepentingan publik.Lalu tampilah Ivy Leedbetter Lee,pencetus PR yang mengedepankan kepentingan publik.Lalu ia membuka konsultan PR yang berprinsip kejujuran dan keterbukaan informasi bagi publik.Perkembangan PR dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.Mengapa?karena saat teknologi perkembang maka media2 PR juga secara otomatis berkembang

Praktek PR mencakup 3 aspek: penyampaian informasi,persuasi,dan menggalang opini publik.Pada awalnya praktek PR digunakan untuk urusan keagamaan baru kemudian dipakai dalam dunia politik.Dalam kemajuannya perusahaan mulai menggunakan PR untuk memperoleh citra positif bagi perusahaannya.Lalu aktivitas PR berkembang menjadi press release yang memanfaatkan media didalamnya.Namun dalam prakteknya banyak berita2 terutama yang negatif yang berusaha ditutup tutupi oleh perusahaan.Ujung2nya berita negatif tsb tercium oleh pers dan malah menjatuhkan reputasi perusahaan tsb.Karena hal ini maka aktivitas PR berkembang menjadi crisis management,yaitu bagaimana mendeteksi,mangantisipasi krisis yang akan menghantam.

Perkembangan diatas dapat dirangkum kedalam 5 tahap pola komunikasi PR:
1.PR events (kampanye,propaganda-mulai abad ke-15)
2.Press release (1920)
3.Pr Agencies (1970)
4.Pr crisis (1980
)5.Reputation management (1990)

Perkembangan PR dari sudut model komunikasi:
1.Oneway communication: propaganda,komunikasi persuasi,komunikasi lewat media masssa
2.Two way communication: komunikasi dua arah,ada dua macam yaitu asimetric (tidak berimbang,respon dari public ada tapi tidak begitu diperhatikan),simetric (berimbang,respon publi diperhatikan)

SEJARAH PERKEMBANGAN PUBLIC RELATIONS DI INDONESIA

Public Relations (PR) di Indonesia secara konsepsional baru dikenal pada tahun 1950-an, setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Dimana pada saat itu, Indonesia baru memindahkan pusat ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta. Tentu saja, proses pembenahan struktural serta fungsional dari tiap elemen-elemen kenegaraan baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif marak dilakukan oleh pemerintah pusat.

Saat itu Pemerintah menganggap penting akan adanya badan atau lembaga yang menjadi pedoman dalam mengetahui“ Who we are, and what should we do,first? “. Oleh sebab itu, dibentuklah Departemen Penerangan. Namun, pada kenyataannya, departemen tersebut hanya berdedikasi pada kegiatan politik dan kebijaksanaan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Dengan kata lain, tidak menyeluruh.

Dengan alasan demikian, maka pada tahun 1962 , dari Presidium Kabinet PM Juanda, menginstruksikan agar setiap instansi pemerintah harus membentuk bagian atau divisi Humas (PR), ditahun itulah, periode pertama cikal bakal adanya Humas di Indonesia.

Namun, tidak berhenti disitu saja, PR berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi. Dimulai dengan pengambilan kata “Humas” yang merupakan terjemahan dari Public Relations. Maka tak heran, kita sering menemui penggunaan sebutan “ Direktorat Hubungan Masyarakat” atau “Biro Hubungan Masyarakat” bahkan “ Bagian Hubungan Masyarakat “ sesuai dengan ruang lingkup yang dijangkau. Jika dikaitkan dengan method of communication, maka istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Hubungan Masyarakat itu, hanya mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi, misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations. Itulah yang saat itu dialami oleh Indonesia.

Ternyata, orientasi PR Indonesia belum seutuhnya dapat dikatakan sebagai “ PR Sejati “. Sebab berbeda dengan konsep yang diterapkan oleh bapak PR, Ivy L.Lee, yakni mempunyai kedudukan dalam posisi pemimpin dan diberi kebebasan untuk berprakarsa dalam meyiapkan informasi secara bebas serta terbuka.

Maka tidak heran, di periode pertama tersebut, PR di Indonesia secara struktural belum banyak yang ditempatkan dalam top management. Ironis memang, dalam kenyataannya pemimpin perusahaan sering meminta kepala humas untuk mendampingi ketika menghadapi publik eksternal. Selain itu kegiatan masih banyak bersifat penerangan satu arah ke publik eksternal semata-mata.

Namun, perkembangan PR di Indonesia semakin maju, sehingga kini dapat dikatakan sebagai “PR Sejati”. Hal ini, dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga membawa perubahan zaman.

Terbukti di periode kedua, pada tahun 1967-1971, terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dan pembangunan, khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.

Di periode ketiga tahun 1972 dan 1987, munculnya PR kalangan profesional pada lembaga swasta umum, yakni didirikannya Perhumas ( Public Relations Associations of Indonesia ) pada tanggal 15 Desember 1972. Konvensi Humas di Bandung tahun 1993, telah menetapkan Kode Etik Kehumasan Indonesia ( KEKI ). Perhumas tercatat sebagai anggota International Public Relations Associations (IPRA) dan Forum Asean Public Relations Organizations ( FAPRO ).

Pada tanggal 10 April 1987 di Jakarta dibentuk suatu wadah profesi PR lainnya yang disebut Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia ( APPRI ), yang bergerak dalam konsultan jasa kehumasan.

Di periode keempat, tahun 1995 hingga sekarang, perkembangan PR sangat pesat. Ternyata perkembangan PR tumbuh dikalangan swasta bidang professional khusus (spesialisasi) Humas bidang idustri pelayanan jasa. Ditandai terbentuknya Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3) pada tanggal 27 November 1995. Berdirinya Forum Humas Perbankan (Forkamas) pada tanggal 13 September 1996.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: